Pasar smartphone global sedang tidak berada dalam kondisi terbaik. Harga komponen yang semakin mahal membuat produsen harus menghadapi pilihan sulit yaitu menaikkan harga perangkat atau menekan margin keuntungan. Di saat yang sama, konsumen juga mulai lebih selektif sebelum mengganti ponsel. Namun, situasi tersebut ternyata tidak sepenuhnya menjadi masalah bagi Apple. Di beberapa pasar besar, penjualan iPhone justru mampu tumbuh ketika pasar smartphone secara keseluruhan mengalami kontraksi.
India menjadi salah satu contoh paling menarik. Penjualan smartphone di negara tersebut turun sekitar 14 persen pada periode akhir Maret hingga awal Agustus 2026. Menariknya, Apple justru membukukan pertumbuhan penjualan sekitar 15 persen.
Performa tersebut membuat Apple menjadi salah satu merek dengan pertumbuhan paling kuat di tengah pasar yang sedang lesu. Samsung dan Oppo sebagai pesaingnya hanya mencatat pertumbuhan sekitar 4 persen.
iPhone 17 Jadi Salah Satu Penopang Penjualan Apple
Salah satu faktor yang membantu Apple mempertahankan momentumnya adalah tingginya minat terhadap iPhone 17. Kehadiran perangkat generasi tersebut memberikan alasan baru bagi sebagian konsumen untuk melakukan upgrade.

Selain produk, strategi harga juga ikut berperan. Berbagai promo membuat harga iPhone menjadi lebih mudah dijangkau oleh konsumen di sejumlah pasar. Ini penting karena ketika daya beli melemah, konsumen biasanya tidak sekadar mencari ponsel baru, tetapi juga mempertimbangkan seberapa besar keuntungan yang mereka dapatkan dari pembelian tersebut.
Fenomena serupa terlihat di Amerika Latin. Ketika penjualan smartphone kawasan itu turun sekitar 10 persen pada kuartal II 2026, Apple masih mampu mencatat pertumbuhan 5 persen.
Apple bahkan semakin kuat di segmen perangkat premium. Sekitar 51 persen pasar smartphone dengan harga di atas 600 dolar AS di kawasan tersebut dikuasai Apple. Artinya, strategi perusahaan tidak hanya bergantung pada volume penjualan, tetapi juga kekuatan merek di kelas harga tinggi.
Eropa Menguat, China Justru Masih Jadi Tantangan
Di Eropa, posisi Apple juga semakin menarik. Pangsa pasarnya meningkat hingga 34 persen, naik sekitar sembilan poin persentase. Angka tersebut membuat Apple berada sejajar dengan Samsung, sementara Xiaomi berada di belakangnya.

Meski begitu, perjalanan Apple belum sepenuhnya mulus. China masih menjadi salah satu pasar yang cukup berat. Penjualan smartphone di negara tersebut turun sekitar 8,6 persen dalam 30 pekan pertama 2026.
Setelah program festival belanja 618 berakhir, permintaan bahkan kembali mengalami tekanan. Diskon yang sebelumnya membantu mendorong pembelian juga mulai berkurang di sejumlah toko, sehingga konsumen cenderung menunda pembelian berikutnya.
Apple kemungkinan masih harus menunggu momentum peluncuran generasi iPhone berikutnya untuk kembali meningkatkan minat konsumen di China. Di sisi lain, Huawei tetap menunjukkan kekuatan dengan mempertahankan posisi sebagai salah satu pemain utama di pasar tersebut.
Ke depan, kenaikan harga komponen dan keterbatasan pasokan memori diperkirakan masih menjadi tantangan industri hingga akhir 2026. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan Apple di beberapa wilayah menjadi cukup menarik karena menunjukkan bahwa konsumen belum sepenuhnya meninggalkan perangkat premium.
Pasar smartphone global sendiri diperkirakan membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih. Pemulihan yang benar-benar kuat bahkan diproyeksikan baru terjadi paling cepat pada 2028. Bagi Apple, kemampuan mempertahankan permintaan di tengah situasi sulit inilah yang bisa menjadi modal penting untuk menghadapi persaingan beberapa tahun ke depan.
Baca juga:
- OPPO Umumkan Harga Smartphone Terbaru Per Juni 2026, Ada yang 31 Jutaan!
- 5 Smartphone 5G Terlaris Tahun Ini, Spek Gahar Harga Bikin Tergoda!
- Huawei Pura X View Bikin Heboh, Smartphone Lebar Pertama di Dunia!
Cari gadget berkualitas dengan harga terbaik? Temukan pilihan laptop, PC, dan komponen PC dengan harga terbaik hanya di Pemmz.com.
Cari tahu juga update berita terkini dan teraktual seputar teknologi dan gadget di Pemmzchannel.com.





















