Pasar kartu grafis kelas profesional kembali mendapat kabar kurang menyenangkan. Nvidia RTX Pro 6000 96GB Blackwell kini dibanderol sekitar US$16.000 atau setara Rp285 juta. Nilai tersebut terlihat sangat tinggi jika dibandingkan dengan harga pre-order awal yang berada di kisaran US$7.600.
Artinya, dalam kurun waktu sekitar satu setengah tahun, harga GPU workstation tersebut telah melonjak lebih dari 100 persen. Padahal, RTX Pro 6000 sejak awal memang ditujukan untuk pengguna profesional seperti kreator konten, pengembang AI, peneliti, hingga kebutuhan komputasi berat.
Kenaikan harga juga tidak hanya terjadi pada model workstation. Sejumlah GPU GeForce untuk konsumen ikut mengalami tekanan harga. RTX 5090, misalnya, kini disebut telah menembus US$4.000, jauh di atas harga peluncuran sekitar US$2.000.
Kondisi ini membuat GPU kelas atas semakin sulit dijangkau, terutama bagi pengguna yang sedang merakit PC dengan kebutuhan grafis dan komputasi tinggi.
Krisis Memori Jadi Pemicu Kenaikan Harga RTX Pro 6000 Nvidia
Perubahan harga RTX Pro 6000 tidak terjadi dalam satu malam. Sejak diperkenalkan, kartu grafis ini telah mengalami beberapa kali penyesuaian harga. Dari sekitar US$7.600 pada masa pre-order, harganya kemudian bergerak ke kisaran US$8.500 dan terus meningkat hingga sekitar US$13.000 pada Juni 2026.

Salah satu faktor yang paling banyak dikaitkan dengan kondisi tersebut adalah ketatnya pasokan memori. Permintaan terhadap komponen memori meningkat seiring pesatnya kebutuhan industri AI dan pusat data. Situasi tersebut menciptakan persaingan antara kebutuhan komputasi AI dan pasar perangkat konsumen. Ketika kapasitas produksi komponen tidak mampu mengikuti pertumbuhan permintaan, harga ikut terdorong naik.
Bahkan, tekanan pasokan memori diperkirakan belum akan segera berakhir. Jika kondisi ini terus berlangsung, biaya produksi berbagai perangkat berbasis memori berpotensi tetap tinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Dampaknya Mulai Terasa di Pasar PC
Kenaikan harga GPU sebenarnya hanya salah satu bagian dari masalah yang lebih besar. Ketika komponen utama seperti memori mengalami tekanan pasokan, efeknya dapat merembet ke berbagai produk teknologi. GPU kelas menengah pun ikut terkena dampaknya. RTX 5070 yang memiliki MSRP US$549 disebut telah berada di sekitar US$900 pada sejumlah toko online. Sementara RTX 5050 juga dipasarkan di atas US$300, lebih tinggi daripada harga resminya yang berada di US$249.

Bagi konsumen, kondisi ini membuat memilih waktu untuk membeli komponen PC menjadi semakin penting. Mereka yang tidak membutuhkan performa ekstrem mungkin perlu mempertimbangkan GPU generasi sebelumnya atau menunggu kondisi pasar lebih stabil.
Jika tekanan memori terus berlanjut, bukan hanya kartu grafis yang berpotensi mahal. Laptop, desktop, smartphone, konsol game, hingga perangkat elektronik lain juga dapat terkena efek domino dari meningkatnya biaya komponen.
Dengan kata lain, lonjakan harga RTX Pro 6000 menjadi gambaran bahwa masalah pasokan komponen saat ini bukan sekadar persoalan satu produk Nvidia, melainkan bagian dari perubahan besar di industri perangkat keras.
Baca juga:
- MSI dan NVIDIA Resmi Perkenalkan Laptop Pertama dengan RTX Spark!
- Laptop ASUS ProArt Terbaru Hadirkan Superchip NVIDIA RTX Spark
- Review Axioo Pongo 755 AMD: Performa Ryzen & RTX 5050 Era Baru!
Cari gadget berkualitas dengan harga terbaik? Temukan pilihan laptop, PC, dan komponen PC dengan harga terbaik hanya di Pemmz.com.
Cari tahu juga update berita terkini dan teraktual seputar teknologi dan gadget di Pemmzchannel.com.





















