Peluncuran sistem operasi terbaru biasanya menjadi momen yang ditunggu para pengguna iPhone. Namun kenyataannya, tidak semua pemilik iPhone langsung beralih ke iOS 26 meski pembaruan tersebut sudah tersedia sejak September 2025. Data survei menunjukkan bahwa sebagian pengguna dewasa di Amerika Serikat justru memilih bertahan di versi lama.
Menariknya, alasan penundaan ini bukan semata karena masalah teknis. Banyak pengguna tidak menyadari bahwa pembaruan tersedia, atau mengira iPhone mereka akan memperbarui sistem secara otomatis. Ini menunjukkan bahwa perilaku pengguna terhadap teknologi sering kali dipengaruhi kebiasaan, asumsi, dan tingkat literasi digital, bukan hanya fitur baru yang ditawarkan.
Fenomena ini memberi gambaran bahwa adopsi teknologi tidak selalu berjalan secepat inovasinya. Bahkan di ekosistem Apple yang dikenal stabil dan terintegrasi, masih ada celah komunikasi antara sistem dan penggunanya.
Ketakutan Tersembunyi di Balik Update Sistem Operasi iOS 26
Salah satu alasan paling kuat yang membuat pengguna ragu memperbarui iOS 26 adalah kekhawatiran terhadap daya tahan baterai. Banyak pengguna belajar dari pengalaman sebelumnya, di mana pembaruan sistem dianggap membuat baterai lebih cepat habis, terutama pada perangkat lama.

Selain itu, isu penurunan performa juga menjadi momok. Pengguna khawatir ponsel menjadi lebih lambat, aplikasi tidak berjalan optimal, atau muncul bug yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Karena ponsel sudah menjadi alat utama untuk bekerja, berkomunikasi, hingga hiburan, risiko kecil pun terasa besar.
Ada pula faktor emosional yang sering diabaikan, yaitu ketakutan kehilangan kontrol. Beberapa pengguna merasa tidak nyaman karena setelah update, mereka tidak bisa kembali ke versi iOS sebelumnya. Ini menciptakan rasa “sekali salah, menyesal”, sehingga banyak orang memilih menunggu laporan dari pengguna lain sebelum mengambil keputusan.
Menariknya, mayoritas pengguna sebenarnya tidak menolak update. Mereka hanya ingin merasa aman. Inilah alasan mengapa banyak yang bersikap pasif dan memilih menunggu, meski pembaruan sudah tersedia.
Desain Liquid Glass dan Dilema Preferensi Pengguna
Selain performa dan baterai, desain antarmuka baru Liquid Glass juga menjadi bahan pertimbangan. Tidak semua pengguna menyukai perubahan visual, terutama jika menyangkut keterbacaan dan kenyamanan mata. Bagi sebagian orang, desain bukan sekadar estetika, tetapi soal efisiensi dan kebiasaan.

Perubahan tampilan sering memaksa pengguna untuk beradaptasi ulang. Letak menu yang bergeser, efek visual baru, atau animasi tambahan bisa terasa mengganggu, terutama bagi pengguna yang mengandalkan iPhone untuk produktivitas harian.
Hal ini menunjukkan bahwa inovasi desain tidak selalu diterima secara universal. Apple mungkin melihat Liquid Glass sebagai penyegaran visual, namun pengguna melihatnya dari sudut pandang kenyamanan jangka panjang.
Pada akhirnya, keputusan memperbarui iOS bukan hanya soal “versi terbaru”, tetapi soal kepercayaan pengguna terhadap dampak update tersebut. Selama masih ada kekhawatiran, baik teknis maupun emosional, sebagian pengguna akan terus memilih menunggu.
Baca juga:
- Android 17 Bakal Tiru iOS? Google Siapkan Motion Assist untuk Atasi Mabuk Perjalanan!
- Begini Cara Download dan Install iOS 26.2, Jangan Update Sembarangan!
- Apple Bersiap Meluncurkan iOS 27, Ini Prediksi Tanggal Rilisnya!
Cari gadget berkualitas dengan harga terbaik? Temukan pilihan laptop, PC, dan komponen PC dengan harga terbaik hanya di Pemmz.com.
Cari tahu juga update berita terkini dan teraktual seputar teknologi dan gadget di Pemmzchannel.com.



















