Di tengah gugatan hukum dan kontroversi soal penggunaan data pelatihan, OpenAI meluncurkan Safety Evaluations Hub sebuah platform yang diklaim sebagai bentuk transparansi. Tapi, benarkah ini solusi tuntas atau sekadar strategi pencitraan dari OpenAI?. OpenAI baru saja memperkenalkan halaman web baru yang member tahu berbagai metrik terkait kinerja model AI-nya.
Mulai dari tingkat hallucination (ketika AI menghasilkan informasi palsu), konten berbahaya, hingga upaya jailbreak (usaha membobol batasan AI), semuanya akan tercantum di sini. Langkah ini disebut sebagai upaya akuntabilitas, terutama di tengah tuntutan hukum yang terus membayangi perusahaan.
Safety Evaluations Hub: Harapan Baru atau Panggung Pencitraan?
Tapi di balik klaim transparansi ini, ada ironi yang mencolok. Sementara OpenAI berkoar soal keterbukaan, mereka masih berurusan dengan tuduhan penggunaan data ilegal untuk melatih model AI-nya. Bahkan, The New York Times melaporkan bukti kasus plagiarisme ini sengaja utnuk dihapus oleh OpenAI. Jadi, seberapa kredibel inisiatif terbaru ini?

Menurut OpenAI, Safety Evaluations Hub adalah penyempurnaan dari system cards—dokumen yang sebelumnya hanya merinci langkah keamanan saat produk diluncurkan. Bedanya, hub ini akan memberikan pembaruan berkala.
Di halaman itu, publik dapat melihat data model kayak GPT-4.1 sampai 4.5. Namun, OpenAI mengingatkan bahwa informasi yang diberikan hanyalah “snapshot”—artinya, tidak lengkap dan harus dirujuk ke dokumen resmi lainnya. Pertanyaannya: kalau memang mau transparan, kenapa tidak buka akses penuh? Ini menimbulkan kecurigaan. Apakah OpenAI hanya ingin terlihat terbuka, tapi sebenarnya tetap menyimpan banyak data di balik layar?
OpenAI Jadi Hakim bagi Dirinya Sendiri
Ini poin paling krusial: evaluasi keamanan ini sepenuhnya dilakukan oleh OpenAI sendiri. Tidak ada pihak independen yang benar-benar ngecek atau ngevalidasi hasil dari hub ini. Artinya, OpenAI bisa milih sendiri data mana yang mau ditunjukin ke publik dan mana yang disimpan rapat-rapat. Bayangin aja, kayak ngasih kunci brankas ke orang yang dulu pernah ketahuan ngutil.

Apalagi, kasus kebocoran data yang melibatkan Microsoft dan DeepSeek belakangan ini nunjukkin kalau ekosistem AI itu sebenarnya masih ringkih banget. Jadi kalau OpenAI beneran niat soal transparansi, kenapa Tidak sekalian aja undang auditor eksternal buat ngecek semuanya?
Di sisi lain, langkah ini bisa juga dibaca sebagai respons dari tekanan komunitas AI yang makin vokal. Dengan ngasih ruang buat para pengguna bikin versi ChatGPT sendiri, mungkin OpenAI lagi nyoba bangun kepercayaan. Tapi jangan lupa kepercayaan itu Tidak bisa dibentuk cuma lewat platform atau fitur baru. Tidak cukup sebatas brosur online.
Mungkin jawaban yang sebenarnya justru ada di hal-hal yang mereka Tidak bilang—bukan di apa yang mereka tampilkan. Safety Evaluations Hub bisa menjadi langkah awal yang baik, tapi tanpa keterlibatan pihak independen dan transparansi penuh, ini hanya akan terasa seperti strategi PR belaka.
Jika OpenAI benar-benar ingin meyakinkan publik, mereka harus berani membuka semua data pelatihan, mengundang pengawasan eksternal, dan berhenti bermain aman dengan informasi yang dipilih-pilih. Tanpa itu, Safety Evaluations Hub hanyalah ilusi transparansi di tengah badai kontroversi.
Baca juga:
- ChatGPT Resmi Gantikan Gemini Jadi Asisten Default di Android? Ini Bocoran Lengkapnya!
- Alibaba Luncurkan Model AI Qwen 2.5-Max, Siap Tantang DeepSeek dan GPT OpenAI
- ChatGPT Library Resmi Dirilis, Bisa Simpan Gambar AI Secara Praktis!
Cari gadget berkualitas dengan harga terbaik? Temukan pilihan laptop, PC, dan komponen PC dengan harga terbaik hanya di Pemmz.com.
Cari tahu juga update berita terkini dan teraktual seputar teknologi dan gadget di Pemmzchannel.com.




















Thanks designed for sharing such a nice thinking,
paragraph is nice, thats why i have read it entirely