Perang teknologi antara Amerika Serikat dan China telah memasuki babak baru yang lebih sengit, dan kali ini dua raksasa teknologi Korea Selatan, Samsung dan SK Hynix, berada tepat di tengah-tengahnya. Pemerintah AS secara resmi memberlakukan larangan produksi chip di China bagi perusahaan mana pun yang menerima dana subsidi di bawah “CHIPS Act”. Aturan main yang tegas ini secara efektif ‘menyandera’ Samsung dan SK Hynix, memaksa mereka untuk memilih antara menerima bantuan finansial dari AS atau mempertahankan masa depan fasilitas produksi vital mereka di Tiongkok.
Babak Baru Perang Teknologi: Larangan Produksi Chip Diterapkan di China, Bukti AS Makin Semena-mena?
Kebijakan yang tertuang dalam CHIPS Act ini pada dasarnya adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, AS menawarkan miliaran dolar untuk mendorong perusahaan membangun pabrik semikonduktor di wilayahnya, sebuah langkah untuk mengamankan rantai pasok domestik. Namun, di sisi lain, ada syarat yang sangat berat: perusahaan penerima dana dilarang keras melakukan ekspansi atau peningkatan teknologi canggih di pabrik mereka yang berlokasi di China selama 10 tahun. Larangan ini secara spesifik menargetkan produksi chip memori canggih seperti DRAM dan NAND Flash.
Dilema Raksasa Korea: Investasi Triliunan di Ujung Tanduk
Bagi Samsung dan SK Hynix, kebijakan ini adalah mimpi buruk. Kedua perusahaan telah menanamkan investasi puluhan miliar dolar di China. Samsung memiliki fasilitas produksi NAND Flash masif di Xi’an, sementara SK Hynix mengoperasikan pabrik DRAM krusial di Wuxi. Pabrik-pabrik ini bukan hanya aset, tetapi jantung dari rantai pasok global mereka.

Ini adalah posisi dilematis yang luar biasa sulit. Di satu sisi, mereka tidak bisa mengabaikan pasar dan insentif dari AS, yang merupakan sekutu utama dan pusat inovasi teknologi. Di sisi lain, meninggalkan atau membekukan pengembangan aset triliunan rupiah di China adalah sebuah bunuh diri finansial. Kebijakan AS ini seolah tidak memberikan ruang negosiasi, secara efektif memaksa Korea Selatan untuk semakin menjauh dari mitra dagang terbesarnya, China.
Dampak Jangka Panjang dan Masa Depan Industri Chip
Larangan produksi chip di China ini lebih dari sekadar kebijakan ekonomi; ini adalah manuver geopolitik. AS secara terang-terangan berupaya memperlambat kemajuan teknologi China sambil memperkuat posisinya sendiri.
Dalam jangka panjang, kita mungkin akan melihat “bifurkasi” atau terbelahnya rantai pasok teknologi global. Akan ada ekosistem teknologi yang berpusat di sekitar AS dan sekutunya, dan ada ekosistem lain yang dibangun oleh China. Bagi perusahaan seperti Samsung dan SK Hynix, menavigasi dua dunia ini akan menjadi tantangan terbesar mereka. Bagi konsumen global, ketidakstabilan ini berisiko mengganggu pasokan dan berpotensi menaikkan harga perangkat elektronik di masa depan. Perang chip ini masih jauh dari kata usai, dan dampaknya akan terasa oleh kita semua.
Baca juga:
- TikTok Siapkan Platform Khusus untuk Amerika Serikat, Bedanya APA?
- Bosan dengan FYP TikTok? Begini Cara Resetnya Biar Konten Lebih Variatif!
- Amerika Batasi Ekspor Chip AI ke Malaysia dan Thailand, Apa Alasannya?
Cari gadget berkualitas dengan harga terbaik? Temukan pilihan laptop, PC, dan komponen PC dengan harga terbaik hanya di Pemmz.com.
Cari tahu juga update berita terkini dan teraktual seputar teknologi dan gadget di Pemmzchannel.com.



















